Insomnia
merupakan ganggguan tidur yang paling sering dikeluhkan. Penelitian
menunjukkan bahwa kurang lebih 1/3 dari orang dewasa pernah menderita
insomnia setiap tahunnya. Gangguan tidur ini dapt mempengaruhi
pekerjaan, aktifitas social dan status kesehatan penderitanya. Bukti
lain menunjukkan bahwa adanya korelasi yang bermakna antara kurang tidur
dan kecelakaan lalulintas.
Kesulitan untuk memulai tidur ( initiating sleep )
lebih sering dijumpai pada wanita, sedangkan kesulitan mempertahankan
tidur dan terbangun pada pagi hari memiliki prevalensi yang sama antara
wanita dan pria . Keluhan
insomnia lebih sering didapat pada orang yang mudah cemas atau depresi,
orang dengan sosial ekonomi yang rendah, bercerai , mereka dengan
penyakit kronis, dan pada peminum alkohol berat.
Ø Ada
2 jenis tidur, yaitu tidur gelombang lambat (tidur NREM) dan tidur
paradoksikal (tidur REM). yang berfrekuensi 3-6 siklus per detik )
Pada
fase tidur paradoksikal didapatkan pola EEG yang serupa dengan keadaan
terjaga. Pola perilaku yang menyertai tidur paradoksikal ditandai oleh
inhibisi mendadak tonus otot seluruh tubuh sehingga otot-otot mengalami
relaksasi total tanpa terjadi gerakan. Tidur paradoksikal juga ditandai
oleh gerakan mata cepat ( rapid eye movement
), kecepatan denyut jantung dan frekuensi pernapasan menjadi tidak
teratur / ireguler dan tekanan darah mungkin berfluktuasi. Tidur
paradoksikal merupakan tahap tidur yang paling dalam, karena pada siklus
tidur normal, seseorang selalu melewati tidur gelombang lambat sebelum
masuk ke tidur paradoksikal, saat ini orang paling sulit dibangunkan
tetapi mudah terbangun sendiri. . Selama masa remaja dan dewasa, tidur
paradoksikal rata-rata menghabiskan 20% dari waktu tidur total
Kebanyakan
orang dewasa tidur sekitar 7-8 jam dalam semalam, meskipun berbagai
variasi terdapat pada orang-orang sehat dan pada berbagai usia. Pada
bayi dan orang tua terdapat frekuensi tidur bangun yang lebih sering .
Beberapa keadaan tertentu seperti demam tinggi, nyeri yang luar biasa,
gangguan emosional, dan lain-lainnya, dapat mengganggu tidur seseorang .
Gangguan
tidur ada 2 macam, yaitu gangguan tidur yang fungsional dan patologis.
Gangguan tidur fungsional terdiri dari somnabulisme, sleep automatism,
kejang nokturnus, dan paralisis nokturnus. Sedangkan hipersomnia (
terlalu banyak tidur ) dan insomnia ( kurang tidur ) merupakan bagian
dari gangguan tidur patologis.
Insomnia
sendiri didefinisikan sebagai suatu persepsi dimana seseorang merasa
tidak cukup tidur atau merasakan kualitas tidur yang buruk walaupun
orang tersebut sebenarnya memiliki kesempatan tidur yang cukup, sehingga
mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun
dari tidur .
Penderita insomnia berbeda dengan orang yang memang waktu tidurnya pendek ( short sleepers ), dimana pada short sleepers
meskipun waktu tidur mereka pendek, mereka tetap merasa bugar sewaktu
bangun tidur, berfungsi secara normal di siang hari, dan mereka tidak
mengeluh tentang tidur mereka di malam hari.
Berdasarkan waktu terjadinya, insomnia dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
- Transient insomnia : insomnia
yang berlangsung kurang dari 3 minggu dan biasanya berhubungan dengan
kejadian-kejadian tertentu yang berlangsung sementara dan biasanya
menimbulkan stress dan dapat dikenali dengan mudah oleh pasien sendiri.
Diagnosis transient insomnia biasanya dibuat secara retrospektif setelah
keluhan pasien sudah hilang. Keluhan ini kurang lebih ditemukan sama
pada pria dan wanita dan episode berulang juga cukup sering ditemukan,
faktor yang memicu antara lain akibat lingkungan tidur yang berbeda,
gangguan irama sirkadian sementara akibat jet lag atau rotasi waktu
kerja, stress situasional akibat lingkungan kerja baru, dan
lain-lainnya. Transient insomnia biasanya tidak memerlukan terapi khusus dan jarang membawa pasien ke dokter.
- Short-term insomnia: Berlangsung 1-6 bulan dan biasanya disebabkan oleh kejadian-kejadian stress yang lebih persisten, seperti kematian salah satu anggota keluarga.
- Cyclical insomnia ( recurrent insomnia
): Kondisi ini lebih jarang daripada transient insomnia. Kondisi ini
terjadi akibat ketidakseimbangan antara tidur dan bangun.
Ketidakseimbangan ini dapat terjadi sementara ataupun seumur hidup.
Kejadian berulang ini bisa terjadi akibat perubahan fisiologis seperti
siklus premenstrual ataupun perubahan psikologik seperti manik depresif,
anorexia nervosa, atau kambuhnya perubahan perilaku tertentu seperti
kecanduan obat, dan lain sebagainya.
- Chronic insomnia ( persistent insomnia ) : Berlangsung lebih dari 6 bulan. Dibagi menjadi 2, yaitu insomnia primer dan sekunder
Ada beberapa faktor resiko insomnia, yaitu:
- Emosi.
Transient dan recurrent insomnia biasanya disebabkan oleh gangguan
emosi. Memendam kemarahan, cemas, ataupun depresi bisa menyebabkan
insomnia.
- Kebiasaan. Penggunaan kefein, alkohol yang berlebihan, tidur yang berlebihan,
merokok sebelum tidur dan stress kronik bisa menyebabkan insomnia.
Faktor lingkungan seperti bising, suhu yang ekstrim, dan perubahan
lingkungan atau jet lag bisa menyebabkan transient dan recurrent
insomnia.
- Usia di atas 50 tahun
- Jenis
kelamin. Insomnia lebih banyak menyerang wanita ( 20-50% lebih tinggi
daripada pria ). Wanita lebih sering menderita insomnia karena siklus
mentruasinya. 50% wanita dilaporkan menderita kembung yang mengganggu
tidurnya 2-3 hari di setiap siklusnya. Peningkatan kadar progesteron
menyebabkan rasa lelah pada awal siklus.
- Episode insomnia sebelumnya.
- Penyakit
kronis yang menyebabkan nyeri ( misalnya arthritis ), terbatasnya
pergerakan ( misalnya Parkinson ), atau kesulitan bernapas ( misalnya
COPD )
Dari sisi etiologi, ada 2 macam insomnia, yaitu:
- Insomnia primer. Pada insomia primer, terjadi hyperarousal state dimana terjadi aktivitas ascending reticular activating system yang berlebihan.
Pasien bisa tidur tapi tidak merasa tidur. Masa tidur REM sangat
kurang, sedangkan masa tidur NREM cukup, periode tidur berkurang dan
terbangun lebih sering. Insomnia primer ini tidak berhubungan dengan
kondisi kejiwaan, masalah neurologi, masalah medis lainnya, ataupun
penggunaan obat-obat tertentu.
· Insomnia
sekunder. Insomnia sekunder disebabkan karena gangguan irama sirkadian,
kejiwaan, masalah neurologi atau masalah medis lainnya, atau reaksi
obat. Insomnia ini sangat sering terjadi pada orang tua .
Insomnia ini bisa terjadi karena psikoneurotik dan penyakit organik.
Pada orang dengan insomnia karena psikoneurosis, sering didapatkan
keluhan-keluhan non organik seperti sakit kepala, kembung, badan pegal
yang mengganggu tidur. Keadaan ini akan lebih parah jika orang tersebut
mengalami ketegangan karena persoalan hidup. Pada insomnia sekunder
karena penyakit organik, pasien tidak bisa tidur atau kontinuitas
tidurnya terganggu karena nyeri organik, misalnya penderita arthritis
yang mudah terbangun karena nyeri yang timbul karena perubahan sikap
tubuh. .
Manifestasi insomnia bisa berupa :
- Kesulitan untuk jatuh tertidur pada waktu yang normal ( initial insomnia )
Didefinisikan sebagai kesulitan tertidur yang lebih dari 30 menit. Biasanya disebabkan karena tingkat kesadaran yang tinggi yang berhubungan dengan anxietas atau faktor lain.
- Kesulitan untuk mempertahankan tidur / sering terbangun dari tidur lalu sulit tertidur kembali.
Keadaan
ini bisa muncul secara ireguler dalam 1 malam atau muncul pada
waktu-waktu tertentu, seperti selama fase tidur REMTerbangun lebih cepat
di pagi hari. ( terminal insomnia )
Kondisi ini cukup seirng ditemukan pada orang tua Merasa tetap lelah dan mengantuk meskipun durasi tidur sudah cukup. Merasa cemas jika sudah mendekati waktu tidur.
Insomnia dapat memberi efek pada kehidupan seseorang, antara lain :
A. Efek
fisiologis. Karena kebanyakan insomnia diakibatkan oleh stress,
terdapat peningkatan noradrenalin serum, peningkatan ACTH dan kortisol,
juga penurunan produksi melatonin.
B. Efek psikologis. Dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi , irritable, kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.
C. Efek fisik/somatik. Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan sebagainya.
D. Efek
sosial. Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah
mendapat promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati
hubungan sosial dan keluarga.
E. Kematian.
Orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan hidup
lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin
disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek
angka harapan hidup atau karena high arousal state
yang terdapat pada insomnia mempertinggi angka mortalitas atau
mengurangi kemungkinan sembuh dari penyakit. Selain itu, orang yang
menderita insomnia memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk
mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang normal.